Translate

Senin, 03 Maret 2014

Kisah Shadiq Pasadigue, Anak Pejuang yang jadi Bupati Tanahdatar


Idolakan Ayah, Kemana-mana Bawa Yasin
Siapa sangka, dibalik sosoknya yang tegas dan keras, Bupati Tanahdatar Shadiq Pasadigue adalah seorang pria yang sangat mengagumi sosok ayahnya. Pesan-pesan ayahnya begitu melekat dalam dirinya. Bahkan, bupati dua periode ini tak segan-segan menunjukkan foto ayahnya yang senantiasa disimpannya dalam dompetnya.
Hijrah Adi Sukrial—Tanahdatar
Bupati Tanahdatar Shadiq Pasadigue bersama anakkotogadang, Nagari Pangian, Hijrah Adi Sukrial.


Foto pacu jawi yang mendunia itu terpajang gagah di ruang tamu rumah dinas Bupati Tanahdatar Shadiq Pasadigue di Gedung Indo Jalito Batusangkar. Sepertinya, melalui foto itu Shadiq Pasadique ingin memperkenalkan dan membanggakan kepada setiap tamu yang datang Tanahdatar adalah pemilik budaya pacu jawi tersebut.
Di ruang tamu itu Shadiq Pasadigue sedang menerima tamu di rumah dinasnya di Gedung Indo Jalito, Batusangkar ketika Padang Ekspres menemuinya, Jumat (28/2).
Kemudian, dia mempersilakan Padang Ekspres masuk dan mengajak untuk berbincang di ruang tamu yang ada di bagian dalam rumah. Ruang tamu dengan ruang itu dibatasi krai. Sebenarnya ruang itu lebih pas disebut ruang keluarga, karena di sana terdapat meja makan, televisi dan tak jauh dari dapur. Di sana beberapa pegawai sedang sibuk kegiatan masing-masing.
Di dinding dekat ruangan itu ada foto 3 orang pria bersarung yang sedang berdiri di depan rumah. Yaitu, Bung Hatta dan Buya Hamka yang mengapit seorang pria yang kemudian diketahui bernama M Saleh Kari Sutan atau juga dikenal Pakiah Saleh.
Pakiah Saleh adalah ayah dari Shadiq Pasadigue yang juga teman seperjuangan dengan Buya Hamka semasa mengaji di Masjid Jembatan Besi Padangpanjang dan sama-sama dibuang ke Digul bersama tokoh proklamator Indonesia, Muhammad Hatta.
Jangan bayangkan meja makan di rumah bupati itu penuh dengan hidangan dan makanan yang siap disajikan kapan saja, namun meja makan dipenuhi berkas-berkas kedinasan dan buku bacaan. 
”Saya tidak pernah dihidangkan, kalau mau makan, cukup ambilkan saja nasi sepiring. Dihidangkan itu menghabiskan waktu,” ujarnya ketika berbincang dengan Padang Ekspres.
Shadiq mengaku, bukanlah tipe orang yang makan dan berolahraga secara teratur. Bagi Shadiq, makan itu adalah keharusan, karena banyaknya kegiatan yang harus diikutinya membutuhkan tenaga. ”Kadang, mau pergi acara saya makan dulu, agar tidak ngantuk. Soal menu tidak ada pantangan. Namun, olahraga dan liburan sudah tidak sempat lagi,” jelas pria kelahiran 8 Januari 1960 yang mengaku suka makan ayam, sea food dan jengkol ini.
Ada satu hal yang tak pernah bisa ditinggalkan bupati dua periode yang menggantikan Masriadi Martunus sejak tahun 2005 ini, yaitu membaca Al Quran di setiap waktu senggangnya. Misalnya ketika dalam perjalanan menuju rapat atau dinas, di atas pesawat, dan antara Maghrib dan Isya saat dia berada di rumah. Bahkan, Surat Yasin kecil berwarna merah selalu menyertainya kemana pun dia pergi.
”Ayah saya dulu berpesan, setiap hari kita harus membaca Al Quran. Tidak bisa satu juz, 3 halaman, tidak bisa 3 halaman, minimal sehalaman. Makanya saya membawa ini kemana pun saya pergi,” jelasnya sambil memperlihatkan Surat Yasin kecil.
Menurut Shadiq, pesan-pesan ayahnya memang menjadi selalu diingat dan dilaksanakannya. Karena ayahnya yang seorang ulama mendidiknya sangat keras untuk masalah agama. Dia memaparkan, selain untuk selalu mengaji, ada beberapa pesan ayahnya yang terus terngiang di telinganya. Di antaranya, agar tidak pernah meninggalkan shalat, tidak beranak banyak, tidak iri hati, dan tidak makan yang haram.
Kata Shadiq, ayahnya menganalisa banyak masyarakat yang memiliki banyak anak, namun kemudian menjadi beban baginya. Misalnya, ada orang memiliki empat anak, namun tidak mampu memberi makan dan mendidik dengan baik. Hal itu akan menyebabkan anak menjadi beban bagi orangtuanya. ”Oleh sebab itu anak saya cuma dua,” ulas pria berkumis dan berkacamata ini.
Shadiq mengaku, dia tidak pernah mengajak anaknya liburan atau makan malam bersama secara khusus. Terutama sejak menjadi pejabat publik. Kata dia, dulu saat masih tinggal di Komplek Semen Padang, Sabtu atau Minggu mereka masih sempat meluangkan waktu bersama, minimal sekadar pergi ke pusat Kota Padang.
Sekarang. walau dia dan istrinya sibuk, mereka tidak melupakan perhatian untuk sepasang buah harinya itu. Wujud perhatian diberikan dengan cara selalu mengontrol shalat, makan dan kuliah anaknya. Kemudian, dia juga senantiasa mendoakan anaknya. ”Ini lihat, saya menelpon jam 13.20. Tadi saya menanyakan dimana dia shalat Jumat dan makannya. Saya juga ingatkan untuk pergi kuliah dan tidak lupa membuat tugas,” jelasnya sembari memperlihatkan telepon selularnya pada Padang Ekspres.   
Menurutnya, hal itu harus dilakukan setiap orang tua jika tidak ingin anaknya menjadi anak yang menyusahkannya kelak. Sebab, apabila anak diperhatikan ibadah, makan dan pendidikannya, maka anak akan tumbuh jadi anak yang beriman, berilmu dan sehat. Bekal itu pula yang dulu diberikan ayahnya Pakiah Saleh dan ibunya Hj Asiah Said padanya. Dengan demikian, anak akan mampu menjadi berkah bagi orang tuanya. ”Saya lahir saat usia ayah saya sudah 62 tahun. Dia tidak memberikan uang banyak, namun pendidikan agama dan pesan-pesan mendidik yang senantiasa saya ingat. Ayah saya meninggal 3 bulan setelah saya tamat kuliah,” kenang Shadiq.
”Dalam menjalani karir di bidang politik, juga ada pesan yang selalu saya ingat. Intinya, ketika berada di shaf terdepan, ada orang yang menawarkan kita jadi imam, kita harus melihat kiri kanan. Jika rasanya ada orang yang lebih baik dan lebih pantas, persilakanlah orang tersebut. Jika tidak ada, baru kita maju. Jika ini diamalkan, maka tidak akan 10 pasang calon kepala daerah di Padang,” ujar pria asal Nagari Simpuruik yang dibesarkan di Parakjua Batusangkar ini.
Yal, ajudan Shadiq Pasadique mengatakan, selama mendampingi Shadiq dia mengakui, memang sangat berkesan dengan kebiasaan Shadiq yang selalu menyempatkan diri untuk membaca Al Quran. Menurutnya Shadiq memang tidak ada mengikuti pengajian khusus. Sebab, sehabis Maghrib masih banyak acara undangan masyarakat yang dihadirinya.
Namun, dia melihat, selain di perjalanan, Shadiq rutin mengaji saat Kamis malam atau Jumat pagi. ”Biasanya bapak yasinan,” ujarnya. (***)


Terbit di Harian Pagi Padang Ekspres edisi 3 Maret 2014
http://padangekspres.co.id/?news=berita&id=50027


Selasa, 18 Februari 2014

Sosok Surya Burhanuddin Pencari Bocah Pintar








Sosok Surya Burhanuddin Pencari Bocah Pintar

Kirimkan Ratusan Siswa Indonesia ke Luar Negeri dengan Beasiswa
Berawal dari kesuksesan menguliahkan tiga anaknya di universitas terkemuka di Malaysia melalui jalur beasiswa, pengusaha asal Padang yang sekarang menetap di Jakarta ini kemudian mengirimkan ratusan anak Indonesia untuk kuliah ke luar negeri dengan jalur beasiswa. Awalnya dia banyak mengirimkan anak-anak dari daerah lain, sekarang dia berkomitmen mengirimkan anak-anak asal Sumbar.
Hijrah Adi Sukrial—Padang
Wajah Sabrina Washiatul Ahda terlihat bahagia. Betapa tidak, walau berasal dari keluarga kurang mampu, tak lama lagi dia akan menjadi mahasiswa. Tak tanggung-tanggung, alumni SMAN 1 Bukittinggi ini akan kuliah di negeri jiran Malaysia, tepatnya di University Utara Malaysia. Universitas tempat Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono mendapatkan gelar doctor honoris causa pada tahun 2012 lalu.
Untuk kuliah ke sana, Sabrina tidak perlu mengeluarkan uang. Sebab, 80 persen dari biaya pendidikan ditanggung Kerajaan Malaysia melalui beasiswa untuk siswa berprestasi. Sedangkan biaya yang 20 persen dan biaya hidup akan ditanggung oleh Surya Burhanuddin, pensiunan PT Pusri yang sekarang menjadi pengusaha kontraktor di Jakarta dan selama ini berkomitmen mengirimkan siswa terbaik Indonesia untuk kuliah ke Malaysia.
Selain Sabrina, ada juga Muhammad Yasser Julio dari SMAN 2 Padangpanjang
Ketika ditemui Padang Ekspres di rumah dinas Wali Kota Padang, Minggu (18/8) Surya Burhanuddin berbagi cerita dan pengalamannya mengirimkan ratusan siswa pintar Indonesia untuk mendapatkan beasiswa di luar negeri. “Tahun ini kita kirim 3 siswa dari Sumbar. Satu dari Bukittinggi, satu dari Padangpanjang, dan satu dari Padang. Tahun lalu kita kirim enam anak. Dengan demikian sudah 503 anak yang kita kirim ke Malaysia,” jelasnya membuka percakapan.
Berkat usaha keras Surya, sebagian besar para mahasiswa itu mendapat beasiswa dan sebagian kecil mendapat subsidi dari Kerajaan Malaysia sampai 80 persen. Artinya mereka hanya membayar kuliah 20 persen atau sekitar 4 juta per semester. ”kalau kita beri ikan habis termakan. Kalau kita beri mereka kail, mereka dapat ikan dalam jumlah terbilang. Namun, kalau kita beri ilmu, banayak generasi terselamatkan. Artinya mereka akan pulang ke Indonesia. Mereka akan menjadi pengusaha atau pekerja, yang berarti mereka akan menyelamatkan diri mereka sendiri, keluarganya, anak buahnya atau karyawannya,” kata ayah tiga orang anak dan kakek dari tiga cucu itu.
Kegiatan Surya sebagai pembuka jalan bagi calon mahasiswa berkuliah di Malaysia berawal dari pengalaman pribadi. Kala itu ia sudah bekerja di PT Pupuk Sriwijaya (PT Pusri). Ia bersama dua rekan sejawatnya, Lukman Kemis dan Dastamuar Bustami,  disekolahkan kantornya untuk program S-2 di Universitas Sriwijaya (Unsri) Palembang.
Di penghujung periode perkuliahan, mereka mengikuti studi banding ke Nanyang Technological Univercity (NTU) Singapore dan ke University Kebangsaan Malaysia (UKM) di Salangor.
Di sela-sela studi banding UKM, Surya terpesona oleh luasnya kampus dan infrasturukturnya yang amat mengagumkan. Betapa tidak, UKM berada di atas area seluas 1.096 hektare, jauh dari permukiman penduduk, perpustakaan dengan lebih dari 1 juta judul buku, masjid, asrama mahasiswa berkapasitas lebih dari 10.000, dan lapangan golf 18 hole.
Pada saat rehat minum teh selepas acara seminar yang dipimpin Dr Nik Rahimah, Walil Dewan fakultas Pengurusan Perniagaan (Business Management), Suya menyelinap masuk ke bilik Dekan Prof Madya Dr Muhammad Mudya. Surya menanyakan kepada Muhammad Muda tentang kemungkinan putri sulungnya. Reiza Amelia, masuk UKM.
Kala itu, Reiza duduk di kelas 3 SMA 5 Negeri 5 Palembang. Reiza merupakan anak sulung hasil pernikahan Surya dengan mantan anggota Djamain Sisters, Sjenny Djamain. Surya mendapat penjelasan secara terperinci bahwa orang asing tidak dapat kuliah di UKM, kecuali lewat jalur khusus yang berarti anak itu harus punya keistimewaan.
Singkatnya, Reiza diterima untuk tahun kuliah 1996, diikuti kedua adiknya Yanuar Maulana pada 1998 dan Rizki Trinanda 2001`. Ketiganya mendapat bantuan subsidi dari Kerajaan Malaysia 100 persen. ”Kami sangat bahagia dan ingin berbagi kebahagiaan denga orang lain,” kata Surya.
Tamat dari Malaysia, dua anaknya bekerja di Amerika dan Petronas Malaysia. Selanjutnya, mengembangkan usaha di Indonesia.
Melihat keberhasilan ketiga anaknya, Surya tidak berpuas diri. Ia ingin berbagi kebahagiaan orang tua-orang tua yang memiliki anak pintar tetapi tidak mampu menyekolahkan anaknya ke perguruan tinggi. Ia ingin mencarikan sekolah bagi anak-anak intar yang ekonominya lemah. Ide ini kemudian melahirkan gagasan pendirian Sriwijaya Foundation (SF) pada 2003.
Belakangan SF melebarkan sayapnya dengan membantu anak lain di luar Palembang, seperti anak-anak yang jatuh miskin karena orangnya jadi korban gempa di Padang. Pertengahan November lalu, Surya mengurus seorang bocah Surabaya yang pintar tapi orang tuanya tak mampu.
”Anak itu saya carikan Universitas di Malaysia. Saya pakai uang yayasan untuk membiayai perjalanan, penginapan, dan makan kami. Setelah diterima di Malaysia, barulah saya mengahadap Wali Kota Surabaya untuk minta bantuan. Ternyata Wali Kota bersedia membantu kelanjutannya. Begitulah saya, terkatang saya hanya menjadi jembatannya saja. Pokoknya, asal niat kita baik, pasti ada jalan,” kata Surya.
Ia mengimbau orang-orang yang pernah menyekolahkan anaknya di luar negeri untuk mengikuti jejaknya, membantu anak yang tidak mampu untuk mendapat beasiswa di luar negeri. ”Kalau ada kemauan pasti ada jalan, ” ujarnya.
Setelah banyak membantu orang di luar Sumbar, banyak orang yang ”marah” pada Surya Burhanuddin. Kemudian, dia bertekad akan menyekolahkan anak-anak pintar di Sumbar ke luar negeri melalui jaringan yang telah dimilikinya ke Malaysia. Kata dia, ada dua hal yang dapat jadi pelajaran dengan mengirimkan bocah pintar sekolah ke luar negeri.
Pertama, anak Indonesia ternyata mampu dan bisa bersaing di luar negeri. Apabila semakin banyak anak Indonesia dikirim ke luar negeri, kesempatan anak lainnya untuk kuliah di universitas terkemuka tetap banyak. Apalagi kalau ke luar negeri bisa mendapatkan beasiswa.
Kemudian, Surya berharap banyak orang-orang lain yang berhasil dan mempunyai rezeki untuk membagi rezeki dengan menyekolahkan sebanyak-banyaknya anak Indonesia ke perguruan terkemuka di dalam negeri dan luar negeri. ”Saya siap carikan beasiswa dengan jaringan yang saya miliki. Tapi hendaknya ada yang membantu biaya hidupnya, sehingga anak-anak yang benar-benar tidak mampu bisa menikmati pendidikan yang berkualitas dan merubah kehidupan keluarganya,” ulas pria yang lahir di Alang Laweh Koto, Padang ini.
(***)

Surya Burhanuddin (berkacamata) ketika membawa tim dari Universiti Utara Malaysia berkunjung ke Padang dan disambut redaktur Padang Ekspres Hijrah Adi Sukrial (baju kotak-kotak).

Minggu, 16 Februari 2014

Sisi Lain Wali Kota Padang Fauzi Bahar

Tetap Jaga Anak, Tidur 4 Jam Sehari

 
Selasa (18/2) menjadi hari terakhir Fauzi Bahar memimpin Kota Padang. Masyarakat mengenalnya sebagai pemimpin tegas, kharismatik, dan religi. Di balik sosok tegasnya, ternyata mantan pasukan elite TNI AL ini adalah ayah yang penyayang dan penyabar.
Hijrah Adi Sukrial—Padang
Di sela kesibukannya memimpin Kota Padang sejak 10 tahun lalu, Fauzi Bahar tetap meluangkan waktu bagi keluarga tercinta, khususnya si bungsu, Tiara. Tiara terlahir sebagai anak yang berkebutuhan khusus. Fauzi sangat menyayanginya.


Sesibuk apa pun menjalankan tugas memimpin ibu kota provinsi Sumbar ini, Fauzi Bahar selalu menyempatkan diri bercengkerama dengan putrinya yang saat ini berusia 12 tahun.
Pria yang baru saja dianugerahi gelar Datuak nan Sati ini mengaku, Tiara tidak sama dengan anak-anak lainnya. Saat malam, Fauzi harus bergantian dengan istrinya Meutiawati menjaga Tiara. ”Kadang jam 2 malam saya belum tidur, karena Tiara belum tidur. Tapi itu tidak membuat saya capek dan lelah. Saya tetap bisa beraktivitas seperti biasa. Hikmahnya, saya jadi sering tahajud,” ungkap Fauzi Bahar saat berbincang dengan Padang Ekspres, di ruangan kerjanya, Balai Kota, Aiapacah Padang, Jumat (14/7) lalu.
Bagi doktor jebolan Universitas Negeri Padang itu, Tiara adalah amanah yang diberikan Allah padanya. Dia yakin, Allah menilai dia sebagai orang yang mampu dan kuat menjaga, merawat dan menyayangi Tiara.
Sekadar diketahui, saat Fauzi Bahar pertamakali menjabat sebagai Wali Kota Padang pada tahun 2014, ketika itu Tiara masih berumur 2 tahun. ”Dia tidak tahu ayahnya seorang wali kota. Dia tidak tahu ayahnya sedang didemo orang. Yang dia tahu, ketika kita datang, dia ingin bercengkerama dengan kita. Sehingga, seberat apa pun masalah di kota ini, ketika bertemu dengan Tiara, saya harus melupakannya sejenak. Walau 20 menit, saat akan memberikan waktu untuk dia,” papar alumni Lemhanas ini. “Tiara bagi saya adalah yang paling mahal di dunia ini. Dia membuat saya menyadari bahwa cinta yang paling nikmat adalah cinta kepada anak,” ungkap putra Kototangah ini.
Keberadaan Tiara, menurut Fauzi juga membawa berkah bagi anak berkebutuhan khusus lainnya. Sebab, keberadaan Tiara, membuat istrinya Meutiawati memiliki kepedulian tinggi terhadap anak-anak. Salah satunya dengan mendirikan Ti-Ji Home Scholing, yaitu sekolah untuk anak berkebutuhan khusus. Saat ini sekolah ini telah memiliki sedikitnya 60 siswa yang semuanya anak berkebutuhan khusus.
Kemudian, Fauzi Bahar pernah membuka pengobatan gratis di rumah dinasnya. Ketika itu, ribuan warga kota tumpah ruah mengikuti pengobatan gratis. Semua berawal dari perjuangannya menyembuhkan Tiara.
Selain pengobatan modern, juga alternatif. Setelah sekian lama berusaha, akhirnya ia menemukan pengobatan yang tepat bagi putrinya. Ini pula yang dibagi-bagikan kepada masyarakatnya, agar sembuh seperti Tiara.
”Setelah mencoba pengobatan alternatif, putri saya membaik. Saya sangat bersyukur sekali. Tuhan mendengar doa yang saya panjatkan lewat tahajud. Saya begitu gembira. Kebahagiaan itulah yang ingin saya bagi dengan warga kota. Kesembuhan Tiara memberi inspirasi bagi saya untuk mendatangkan perantara pengobatan alternatif  yang telah menyembuhkan Tiara,” sebut Fauzi ketika itu.
Nama tabib yang didatangkan Fauzi Bahar bernama Haji MP Setiaji dari Lereng Wonosobo. Fauzi yakin Allah SWT juga akan memberikan kesembuhan yang sama bagi warga kota lewat perantara MP Setiaji. Awalnya, menurut Fauzi, MP Setiaji hanya menangani anak berkebutuhan khusus dan stroke. Tapi akhirnya, banyak juga penderita penyakit lain yang datang berobat padanya. ”Tiara telah menyadarkan saya, bahwa saya harus berbagi dengan orang lain sebagai wujud rasa syukur atas kurnia Allah,” aku Fauzi.
Walau begitu, Fauzi mengaku tidak pernah bisa berkumpul utuh dengan keluarga. Selama 10 tahun dia memimpin Kota Padang, dia belum pernah sekalipun makan malam dengan kondisi anggota keluarga yang utuh. Walau bulan puasa sekali pun. ”Bulan puasa, setiap hari saya sahur dan berbuka di tempat yang berbeda,” jelasnya.
Sandimitra ajudan sang wali kota mengaku salut dan haru melihat kasih sayang Fauzi Bahar pada keluarganya. Setiap pulang dari luar kota, katanya Fauzi langsung ke rumah untuk bertemu anaknya. ”Biasanya dari bandara bapak langsung ke rumah. Beliau temui Tiara, beliau cium, diajak bercanda. Setelah itu baru beliau menerima tamu atau menghadiri acara atau menjalankan tugas lainnya,” ujar Sandimitra kepada Padang Ekspres, kemarin.
Di hari-hari tertentu, menurutnya Fauzi bahar juga menunjukkan kasih sayang dengan membelikan keluarga oleh-oleh. ”Tiara biasanya dibelikan mainan,” jelasnya.
Berpikir Positif
Memimpin kota yang besar dengan berbagai problematika ini, bukan pekerjaan mudah. Begitu pula yang dirasakan seorang Fauzi Bahar. Dalam sehari, ia hanya merasakan mata terpejam 4 sampai 5 jam. Selain padatnya jadwal menjalankan tugas, dia juga harus menjaga Tiara bergantian dengan istrinya. Namun, Fauzi mengaku selalu fit dan kuat.
Menurut pria yang suka olah raga dragon boat ini, kuncinya adalah positif thingking (berpikir positif), olah raga dan bekam. ”Kalau makanan, saya tidak ada pantangan. Masakan istri yang paling saya suka adalah pangek padeh dan cumi,” jelasnya.
Sedangkan olahraga rutinnya adalah bersepeda. ”Dulu saya menyelam, dragon boat, dan berenang. Sekarang saya rutin bersepeda,” katanya.
Soal karakternya yang dianggap banyak pihak keras dan temperamen, Fauzi tak menampiknya. Dia mengakui, dulu ketika awal menjabat, dia memang agak temperamental. ”Ya, saya yang biasa di pasukan elite, penuh kedisiplinan, berpikir cepat, bekerja cepat, kaget bergabung dengan sipil. Saya maunya semua sama cepatnya dengan saya. Makanya agak temperamental, seiring berjalan waktu saya berusaha menyesuaikan diri,” beber pria yang sukses memberantas togel di awal kepemimpinannya ini.
Sekarang, Fauzi justru dikenal sebagai atasan yang dekat dengan anggotanya. Padang Ekspres berkesempatan merasakan keakraban itu. Saat azan Ashar berkumandang, dia mengajak semua pejabat eselon, staf, hingga wartawan shalat berjamaah di ruang kerjanya di Kantor Balai Kota Padang, dan Fauzi langsung menjadi imam.
”Kalau subuh, bapak ajak saya dan sopir shalat bersama. Kalau siang, di mana ada masjid, di sana kami shalat. Kalau di kantor atau di rumah, siapa yang ada selalu diajak shalat bersama,” kata Sandimitra.
Siap jadi Wagub
Usai menjalankan tugas sebagai Wako Padang dua periode, Fauzi Bahar mengaku akan mengurus beras genggam, yakni mengumpulkan beras dari warga mampu untuk disumbangkan ke warga yang tidak mampu. Selain itu, dia mempersiapkan diri untuk maju sebagai Calon Wakil Gubernur (Cawagub) Kepulauan Riau.
Dia optimistis bisa memberikan sumbangsih pemikiran dan pengalaman dalam memajukan Kepri. Apalagi, Kepri merupakan kampung halaman istrinya. Selain itu, karakter alam Kepri yang sama-sama mempunyai potensi maritim dengan Padang adalah daya tarik tersendiri.
Alasan lain yang menurutnya cukup logis, potensi suara dari masyarakat Minang di Kepri lumayan banyak, karena 24 persen penduduk Kepri adalah warga Minang. “Menurut saya itu sebuah modal. Tentunya kita ingin yang terbaik untuk daerah Kepulauan Riau ini,” tambah pria berkumis ini.
Sumber daya perikanan, sektor pariwisata dan industri maritim, tambang minyak dan gas (migas) menurutnya perlu mendapat perhatian lebih baik lagi. Wilayah kepulauan punya banyak aspek yang seharusnya menjadikan daerah ini punya pergerakan perekonomian yang pesat. ”Kita harusnya memikirkan bagaimana lautan itu bisa dijadikan tempat mata pencarian bagi masyarakat setiap saat seperti layaknya di darat,” ujarnya lagi.
Saat ini, dia sedang penjajakan dengan tokoh Kepri untuk menjadi pasangannya. Bahkan ada rumor beredar bahwa Fauzi akan berpasangan dengan Gubernur incumbent Muhammad Sani. ”Ya kita lihat saja nanti,” ulas pria yang sukses membumikan asmaul husna di Kota Padang ini. (*)

* Juga Diterbitkan di Harian Pagi Padang Ekspres

Rabu, 04 September 2013

Kisah Peternak Ayam Kukuak Balenggek di Solok






Semula hanya Hobi, Sekarang Profesi

Semula ia memelihara ayam kukuak balenggek hanya untuk hobi dan mengisi waktu luang. Setelah pensiun dari Kantor Arsip dan Perpustakaan Kota Solok sejak 1 Juni 2012, dia memelihara ayam kukuak balenggek bukan sekedar hobi lagi, namun untuk budidaya serta melestarikannya.

Hijrah Adi Sukrial—Solok

Pagi-pagi, Joni Putra, warga Simpang Rumbio, Kecamatan Lubuksikarah, Kota Solok ini sudah tiba di kandang ayam di belakang rumahnya. Dengan telaten, dia memberi makan induk dan anak ayam kukuak balenggek yang dipeliharanya.
Dia memegang satu per satu ayam unggulannya. Kemudian, dia memainkan jarinya untuk memancing ayam yang dipegangnya agar berkokok. Ketika satu ayam berkokok, ayam-ayam lainnya ikut berkokok.
Suaranya merdu sekali, tidak hanya sekali berkokok, namun bersambung-sambung. Suasana rumahnya yang sepi dan berada di tengah sawah, yaitu di dekat SMAN 2 Kota Solok menjadi ramai. Beberapa ekor burung peliharaannya juga ikut nimbrung dan meramaikan suasana pagi yang dingin itu. Baginya, mendengarkan kokok ayam balenggek di pagi hari merupakan kebutuhan rutin yang harus ia dapatkan.
Jenis ayam kukuak balenggek (kokok bertingkat) berkembang di Kecamatan Payung Sakaki dan Tigo Lurah, Kabupaten Solok. Sesuai dengan namanya, karakteristik khas ayam ini adalah suara kokoknya yang bertingkat-tingkat.
Ayam ini terbilang langka dan unik.
Jarang ditemukan di daerah lain, baik di Sumbar maupun provinsi lain. Namun beberapa pencintanya mencoba mengembangkan ayam ini hingga ke luar daerah, sekitar Sumbar.
Joni beternak ayam kukuak balenggek berawal dari hobi. Namun sekarang, ia telah membibitkan ratusan ayam dari keturunan ayam kukuak balenggek tersebut.
Kecintaannya terhadap ayam kukuak balenggek memang sudah ada sejak kecil. Di
a bahkan pernah membeli ayam unik itu seharga Rp 3 juta seekor.
Ayam kukuak balenggek yang bagus bisa ditawar di atas Rp 5 juta. ”Kalau ada kontes, para pencinta ayam kukuak balenggek akan memamerkan ayamnya yang paling merdu, atau yang paling banyak tingkat atau lenggek kokoknya.
”Pemenangnya langsung dibeli dengan harga tinggi. Semakin banyak kokoknya, semakin tinggi harganya,” kata Joni.
Ayam kukuak balenggek ini memiliki banyak jenis. Misalnya ayam kinantan, yang kaki, paruh, mata dan bulunya berwarna putih. Kalau ayam biring kaki, paruh dan mata berwarna merah. Kalau ayam kanso, bulunya berwarna abu-abu. Kalau ayam kuriak, kaki, paruh dan mata berwarna belang.
Sedangkan ayam putih bulu seluruhnya berwarna putih. Kalau ayam tadung kaki, paruh dan mata berwarna hitam. Kalau ayam pileh, kaki, paruh dan mata berwarna putih, dan kalau jalak, kaki, paruh dan mata berwarna kuning.
”Semua bangsal ayam-ayam itu merupakan jenis ayam kukuak balenggek. Tapi tidak semuanya bisa berhasil dilatih menjadi ayam kukuak balenggek. Artinya, mereka butuh perawatan dan latihan khusus agar bisa memiliki kokok yang bagus dan banyak lenggek. Setahu saya yang paling tinggi kelasnya kalau kokoknya mencapai 11 tingkat. Namun, selama saya melatih ayam, saya hanya berhasil mencapai 9 tingkat,” kata pria yang juga hobi mengoleksi batu akik ini.
Untuk perawatan, dia wajib memberikan makanan-makanan khusus, seperti tomat, madu, jeruk, cabai rawit, jahe, dan padi halus. Makanan itu diberikan sekali 15 hari setelah dimandikan. Makanan itu juga tidak diberikan sekaligus tapi bertahap dan memiliki kadar tertentu.
”Di usia empat atau lima bulan, ayam akan memperlihatkan potensinya. Di usia itu kemudian ayam dilatih hingga benar-benar bisa memiliki kukuak balenggek banyak. Saya sekarang memiliki banyak bibit, sedangkan yang telah dilatih dan memiliki kukuak yang bagus ada 9 ekor,” pungkas Joni.
Joni memulai hobi ini sejak tahun 1995. Sejak menggeluti hobi ini, dia berhasil menorehkan berbagai prestasi dalam lomba ayam kukuak balenggek. “Hampir semua lomba ayam kukuak balenggek saya ikuti. Banyak penghargaan, seperti piagam, piala, bahkan medali dan pin emas yang saya peroleh,” ujarnya sambil memerlihatkan  koleksi penghargaannya.
Jika sebelumnya hanya memelihara beberapa ekor ayam unggulan, sekarang Joni Putra memelihara ayam untuk membudidayakannya. Dia mengakui banyak biaya yang dibutuhkan untuk melestarikan ayam ini. Namun, kecintaannya membuatnya rela merogoh kocek dalam-dalam.
“Ayam ini adalah ciri khas Solok maupun Sumbar. Sayang kan kalau ternyata nanti daerah lain yang membudidayakannya. Apalagi sekarang orang di Pekanbaru, Jambi, Bengkulu juga mulai mengembangkan ayam kukuak balenggek,” terangnya.
Joni berharap Pemkab/Pemko mendukung upayanya membudidayakan ayam kukuak balenggek. Karena, dia yang saat ini hanya sebagai seorang pensiunan PNS mengaku kewalahan mengembangkan ayam dalam jumlah banyak karena tersandung dana.
“Untuk mengelola yang ada saat ini saja terkadang saya kewalahan. Saya berharap kalau ada program pemerintah untuk membantu mengembangkannya,” harapnya. (***)

Silaturahmi dan Salurkan Hobi ala Karyawan PT Pos Indonesia




IMPI, Ajang Berbaur dengan Masyarakat dan Karyawan

Selain berkeliling dengan motor untuk mengantarkan surat dan paket pos, karyawan PT Pos Indonesia ternyata mempunyai kegiatan lain yang masih berhubungan dengan jalan-jalan. Sejumlah karyawan PT Pos Indonesia Padang membentuk komunitas motor yang diberi nama Ikatan Motor Pos Indonesia (IMPI). Seperti apa?

Hijrah Adi Sukrial—Padang

DARI kejauhan terlihat konvoi puluhan motor. Mereka mengenakan jaket seragam berwarna oranye, dengan spotlight menyilaukan mata. Mereka adalah komunitas motor yang tergabung dalam Ikatan Motor Pos Indonesia (IMPI).
Jika komunitas lain anggotanya terdiri dari pengguna motor sejenis, IMPI mempunyai ciri khas lain, semua anggotanya khusus karyawan PT Pos Indonesia.
Mereka rutin melakukan touring ke beberapa kabupaten dan kota di Sumbar. Biasanya mereka mengunjungi objek-objek wisata dan melakukan berbagai kegiatan di sana. Saat touring mereka menggunakan bermacam-macam jenis motor. Mulai dari Vespa maupun motor matic kerap dipakai anggota IMPI. Touring biasa diikuti lebih dari 100 motor.
”IMPI ini adalah wadah karyawan pos untuk bersilaturahmi dan melakukan kegiatan sosial. Kami tidak hanya jalan-jalan, kami juga mengunjungi dan memberikan bantuan untuk korban bencana. Kami kunjungi karyawan pos yang kesusahan maupun dalam kebahagiaan. Sebagai bentuk kontribusi untuk perusahaan kami memperkenalkan produk-produk pos pada pengunjung objek wisata,” ujar Masri, ketua IMPI Padang.
Adapun objek wisata yang dikunjungi IMPI di antaranya, Istano Basa Pagaruyung, Pantai Carocok, Puncak Langkisau, Puncak Lawang, Pantai Gandoria, Bukittinggi dan objek wisata lainnya.
Di Padang, IMPI berdiri sejak 2 Juni 2011. Anggotanya telah mencapai 80 orang. Secara nasional, IMPI resmi berdiri 18 Desember 2004 di Bandung. Awal berdirinya IMPI hanya beberapa orang saja. Seiring perkembangan waktu, IMPI melebarkan sayap ke berbagai wilayah di Indonesia. Kepengurusan IMPI pun dibuat secara berstruktur.
Masri menjelaskan, tujuan IMPI untuk menggalang persatuan, kesatuan serta mempererat tali silaturahmi antar insan Pos di seluruh Indonesia sehingga akan meningkatkan kinerja dan produktivitas PT Pos Indonesia. “Hampir semua pegawai Pos Indonesia mulai dari cleaning service hingga manager masuk ke dalam komunitas ini,” ujar Masri.
“Kami menjadi lebih akrab. Yang paling berkesan ketika datang ke pesta anak teman. Kami semua datang naik motor, memakai jaket oranye. Semoga dengan adanya ini masyarakat kembali bernostalgia dengan pos yang identik dengan mengantar surat dan motor oranye,” kata salah seorang anggota yang minta namanya tidak ditulis.
Raten, anggota lainnya menyebutkan, meski komunitas ini beranggotakan kalangan internal, IMPI tak menutup mata terhadap kondisi sekitar. IMPI juga sering melakukan kegiatan sosial seperti menyalurkan bantuan untuk korban bencana. Ke depan, mereka menyiapkan acara pengobatan gratis, donor darah, kegiatan sosial lainnya.
Setiap IMPI melakukan touring, Raten bertugas untuk penunjuk jalan di depan rombongan. Dia mengaku banyak hal berkesan yang dialaminya saat mengikuti kegiatan IMPI. ”Kadang ada lawan yang motornya rusak atau bocor, ada tim yang membantunya. Momen-momen seperti itu membuat kami lebih akrab. Tidak hanya sesama karyawan, tapi juga dengan keluarganya,” beber Raten.
Selain itu, mereka juga menyiapkan mobil yang dilengkapi dengan obat-obatan untuk antisipasi jika sewaktu-waktu ada peserta touring yang sakit atau tidak kuat melanjutkan perjalanan dengan motor.
”Rata-rata peserta touring tidak muda lagi. Namun, dengan kebersamaan dan semangat, kami mampu menaklukkan  medan berat sekalipun. Mungkin kalau jalan sendiri-sendiri, kami tidak akan mau menempuhnya dengan sepeda motor,” ujar Raten.
Melalui komunitas ini, terjalin kebersamaan antara atasan dan bawahan. Semuanya seragam memakai jaket IMPI. Bahkan, kepala Kantor Pos Padang Achmad Sumariadi selalu menyempatkan diri ikut touring. Walau tidak biasa naik motor, saat touring IMPI, dia bergaya layaknya seorang bikers. Beberapa waktu lalu, pasukan oranye ini dipimpin langsung oleh Direktur Utama PT Pos Indonesia I Ketut Mardjana.
Mereka touring dari Padang ke Pariaman. Setibanya di Pariaman mereka melaksanakan acara peresmian kantor pos yang rusak akibat gempa. Setelah acara peresmian, bersama karyawan direksi berbaur di objek wisata yang ada di Pariaman. (***)

Sabtu, 25 Agustus 2012

Tradisi Pacu Jawi Di Kabupaten Tanah Datar

Penuh Filosofi Dihiasi Ritual Adat
Hari Sabtu itu, (11/8), suasana di Nagari Tabek Kecamatan Pariangan terasa berbeda dari hari lainnya. Masyarakat terlihat memakai pakaian lebih rapi dari biasanya. Walau matahari mulai sangat terik dan terasa menyengat, tidak mengurangi semangat mereka untuk menuju Balairung Sari, yaitu sebuah balai-balai atau tempat berkumpulnya masyarakat di nagari itu.

Mengenang Penyanyi Legendaris Minang Zalmon

Almarhum  Terkenal dengan Ciri Khas Runguih


dingin dingin hari
 labiah dingin hati.
laruik malam hari
labiah laruik diak oii hati
Cando Diserai
Kasiak Ramuan Tujuah Muaro

Lagu di atas, kutipan “Kasiak Tujuah Muaro”, yang cukup melekat dengan Zalmon. Pecinta lagu Minang, hampir tak ada yang luput dengan lagu tersebut.

Dalam usia 57 tahun, setelah lama didera penyakit paru, dan dirawat di RS Ibnu Sina, Zalmon pun akhirnya menghadap pada-Nya. Ia telah berpulang, pukul 11.30, 25 Mei 2011. Ranah Minang pun berduka, kehilangan salah seorang penyanyi  terbaiknya, yang suara dalam lagunya menyentuh hati.  Ia dimakamkan di pandam kuburan suku Jambak, Lubuk Minturun, Padang di hari kepergiannya.

Sekitar tahun 1990-an, suara Zalmon, terutama melalui lagu “Kasiak Tujuah Muaro” ciptaan Agus Thaher, tiba-tiba menghentak hati pecinta musik Minang. Lagu itu seakan menjawab paceklik lagu Minang yang konon katanya, belum menawarkan ruh baru di khasanah pecintanya. Tak hanya di kampung halaman, tapi hingga ke tanah rantau kehadiran Zalmon memberi suasana baru.

Suara lembab yang berat, energi ratap dan terkadang terdengar parau terasa berenergi, membuat Zalmon memiliki makna tersendiri di hati penggemarnya.  Apalagi warna suara Zalmon dengan lagu “Kasiak Tujuah Muaro” terasa mengena hati, sehingga, siapa pun yang datang kemduain melagukan “Kasiak tujuah Muaro”, terasa suara Zalmon masih menggetar. Suara Zalmon, ketika didengar, terasa memiliki ruh, yang menjalar kepada hati yang lintuh, terutama pendengar muda yang sedang menahan hati karena cinta dan kehidupan.

Ketika kabar meninggalnya merebak luas melalui jaringan seluler, facebook, twitter, rata-rata mengomentari: turut berduka cita, merasa kehilangan dan mendoakan Zalmon serta keluarga yang ditinggalkannya tabah. Sebentar saja, Rumah duka di kaki bukit Gunung Pangilun, Nanggalo, Padang itu ramai dikunjungi pelayat. Beberapa pelayat, menampakkan wajah murung, seakan suara Zalmon masih mengiang di telinga: Dingin-dingin hari/ Labiah dingin hati/ Laruik malam hari/Labiah laruik hati....

Zalmon juga populer lewat lagu Ratok Padi Ampo.  Lagu ini banyak digemari di tahun 1990-an, dan juga terbilang laris di Indonesia sehingga ia mendapatkan HDX Award . Tentu, banyak lagu-lagu dari album Zalmon mendapat perhatian khusus dari pecinta lagu Minang, antara lain Sapayuang Bajauah Hati, Buruah Sisiak, Nan Tido Manahan Hati, Diseso Bayang dan lainnya.

“Dia telah mewariskan karya seni untuk generasi Minang masa datang, percayalah dia akan selalu hidup dalam nyanyiannya,” tulis Fadlillah Malin Sutan, dosen Fakultas Sastra Universitas Andalas di facebooknya.  Begitu juga halnya Suryadi, peneliti lagu Minang yang kini mukim di Belanda, mengatakan, merasa kehilangan salah seorang penyanyi Minang terbaik.

Ingin Menikahkan Sri
Zalmon bernama asli Syamsurizal, didera sakit paru-paru basah sejak Desember 2010. Penyakitnya itu membuatnya tak bisa berbuat banyak.
Sri Suryani, 32, anak sulung almarhum menceritakan, ayahnya itu mulai sakit-sakitan sejak jatuh dari sepeda motor Desember 2010  lalu di Jalan By Pass Padang. Pascajatuh, di awal tahun 2011 Zalmon masih sempat show di Tangerang.

“Sebenarnya saat itu ayah sakit. Karena tawaran sudah diterima, beliau tetap pergi, walau harus menyanyi sambil duduk,”  kenangnya.  Sebelumnya, pada tahun baru 2010 lalu, Sri masih sempat menemani ayahnya tampil pada acara tahun baru di Kuala Lumpur, Malaysia.

Kata sri, sejak April lalu, sakit yang diderita ayahnya semakin parah. Keluarga kemudian memutuskan merawat Zalmon di rumah sakit. Namun, Zalmon meminta sebelum masuk rumah sakit, dia ingin menikahkan Sri.  Sri dan Keluarga kemudian meluluskan permintaan Zalmon. “Pada Jumat, 22 April, pukul 09.00 bapak nikahkan saya. Sehabis shalat Jumat dia masuk Rumah Sakit. Setelah di rumah sakit dia didiagnosa mengidap paru-paru basah. Dua puluh satu hari di rumah sakit keadaannya semakin parah, dia pun mengalami dehidrasi. Namun dia mendesak untuk dibawa pulang,” tutur Sri dalam duka.

Seminggu dirawat di rumah yang sangat sederhana itu, Zalmon menghembuskan napas terakhirnya. Dia meninggalkan lima  orang anak.

Menurut Sri, tidak ada anak Zalmon yang betul-betul mewarisi bakat menyanyi ayahnya. Hanya saja, Dian,  mahasiswa semester VI Fakultas Ekonomi UNP, anak ketiga Zalmon, yang sering ikut ayahnya bernyanyi.

Suara Runguih
Sementara, Uncu Musfar, Produser yang pertama kali mengajak Zalmon rekaman di bawah bendera Tanama Record mengatakan Zalmon adalah salah satu ikon musik di ranah minang yang tidak tergantikan. Kata Uncu, gaya bernyanyi Zalmon dulunya sangat mirip dengan Tiar Ramon, yaitu ratok, dan dendang Pauah. Dia tidak ingat tahun berapa persisnya Zalmon pertama kali rekaman.

“Yang jelas akhir tahun 80an. Lagu yang hits saat itu adalah Nan Tido Manahan Hati,” ujarnya.
Karena mirip dengan Tiar Ramon, dia kemudian mengarahkan Zalmon mempunyai ciri khas sendiri, jika Tiar Ramon terkenal dengan ratoknya, maka Zalmon dibentuk memiliki ciri khas lain, yang diistilahkan dengan runguih.

“Saya yang memberinya nama Zalmon. Sebab, alirannya mirip dengan penyanyi Tiar Ramon,” kata Uncu.
Diuraikan Uncu, Zal, diambil dari namanya Syamsurizal, dan Mon adalah diambil agar ada mirip-miripnya dengan Tiar Ramon. Alhamdulillah nama itu lebih terkenal dan lekat hingga akhir hayatnya.

Sedangkan Mak Itam, teman akrab almarhum mengatakan, dia kenal dengan almarhum sejak masih belum jadi penyanyi. Hal yang paling berkesan adalah ketika Zalmon menyanyi sambil main layangan, lagunya adalah Kamariah.

“Dia selalu menyanyikan lagu itu,”ujarnya.  “Selain itu orangnya pandai bergaul dan pagarah,” lanjut mak Itam.
Penyanyi Nedi Gampo, mengakui bahwa dia pertama kali rekaman karena terinspirasi Zalmon. Dia mengenal Zalmon saat acara organ tunggal pada tahun 1991. Kemudian lagu yang pertama kali dinyanyikan Nedi Gampo adalah karangan Zalmon yang berjudul Sapayuang Bajauah Hati.

“Saya banyak belajar dari beliau, baik dalam hal menyanyi,  maupun dalam keseharian. Tahun 1993 saya pertama kali rekaman juga membawakan lagu ciptaannya,” ujar Nedi.

Zalmon lahir di Jakarta, 15 September 1954. Zalmon telah mengeluarkan 120 album dengan beberapa rumah produksi, diantaranya Tanama Record, Pitunang Record, Planet Record, Sinar Padang, Gita Firma, bahkan dia sempat mendirikan perusahaan rekaman sendiri yang diberi nama Zalmon Record.

Almarhum juga telah melakukan show di berbagai kota di Indonesia, bahkan sampai ke mancanegara. Hal yang paling khas dari lagu-lagu yang diciptakan dan didendangkannya, yakni nuansa musik “maratok” khas Minang. Beberapa album pernah ditetaskan antara lain Buruak Sisik, Nan Tido Manahan Hati, Kasiak Tujuah Muaro, Biduak Pincalang, Ganggam Baro, Hukum Jatuah Hakim Babelang, Minang Baguncang, Tasisiah, Bulan Kasiangan, Tangih Mande,  Hanyuik Indak Bapinteh, Tacoreang Arang di Kaning, Tangih di Rantau, Ameh jo Timbago, Pudiang Merah, Bareh Ganggam, Ganjia Bana, Kau Pergi tanpa Relaku dan masih banyak lagi.

Kini, Zalmon telah tiada.  Kita mengenangnya, sebagai seniman yang meninggalkan karya, meninggalkan nyanyinya. Suaranya, seakan masih mengiang: Laruik malam hari/Labiah laruik hati....(***)