Translate

Selasa, 18 Februari 2014

Sosok Surya Burhanuddin Pencari Bocah Pintar








Sosok Surya Burhanuddin Pencari Bocah Pintar

Kirimkan Ratusan Siswa Indonesia ke Luar Negeri dengan Beasiswa
Berawal dari kesuksesan menguliahkan tiga anaknya di universitas terkemuka di Malaysia melalui jalur beasiswa, pengusaha asal Padang yang sekarang menetap di Jakarta ini kemudian mengirimkan ratusan anak Indonesia untuk kuliah ke luar negeri dengan jalur beasiswa. Awalnya dia banyak mengirimkan anak-anak dari daerah lain, sekarang dia berkomitmen mengirimkan anak-anak asal Sumbar.
Hijrah Adi Sukrial—Padang
Wajah Sabrina Washiatul Ahda terlihat bahagia. Betapa tidak, walau berasal dari keluarga kurang mampu, tak lama lagi dia akan menjadi mahasiswa. Tak tanggung-tanggung, alumni SMAN 1 Bukittinggi ini akan kuliah di negeri jiran Malaysia, tepatnya di University Utara Malaysia. Universitas tempat Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono mendapatkan gelar doctor honoris causa pada tahun 2012 lalu.
Untuk kuliah ke sana, Sabrina tidak perlu mengeluarkan uang. Sebab, 80 persen dari biaya pendidikan ditanggung Kerajaan Malaysia melalui beasiswa untuk siswa berprestasi. Sedangkan biaya yang 20 persen dan biaya hidup akan ditanggung oleh Surya Burhanuddin, pensiunan PT Pusri yang sekarang menjadi pengusaha kontraktor di Jakarta dan selama ini berkomitmen mengirimkan siswa terbaik Indonesia untuk kuliah ke Malaysia.
Selain Sabrina, ada juga Muhammad Yasser Julio dari SMAN 2 Padangpanjang
Ketika ditemui Padang Ekspres di rumah dinas Wali Kota Padang, Minggu (18/8) Surya Burhanuddin berbagi cerita dan pengalamannya mengirimkan ratusan siswa pintar Indonesia untuk mendapatkan beasiswa di luar negeri. “Tahun ini kita kirim 3 siswa dari Sumbar. Satu dari Bukittinggi, satu dari Padangpanjang, dan satu dari Padang. Tahun lalu kita kirim enam anak. Dengan demikian sudah 503 anak yang kita kirim ke Malaysia,” jelasnya membuka percakapan.
Berkat usaha keras Surya, sebagian besar para mahasiswa itu mendapat beasiswa dan sebagian kecil mendapat subsidi dari Kerajaan Malaysia sampai 80 persen. Artinya mereka hanya membayar kuliah 20 persen atau sekitar 4 juta per semester. ”kalau kita beri ikan habis termakan. Kalau kita beri mereka kail, mereka dapat ikan dalam jumlah terbilang. Namun, kalau kita beri ilmu, banayak generasi terselamatkan. Artinya mereka akan pulang ke Indonesia. Mereka akan menjadi pengusaha atau pekerja, yang berarti mereka akan menyelamatkan diri mereka sendiri, keluarganya, anak buahnya atau karyawannya,” kata ayah tiga orang anak dan kakek dari tiga cucu itu.
Kegiatan Surya sebagai pembuka jalan bagi calon mahasiswa berkuliah di Malaysia berawal dari pengalaman pribadi. Kala itu ia sudah bekerja di PT Pupuk Sriwijaya (PT Pusri). Ia bersama dua rekan sejawatnya, Lukman Kemis dan Dastamuar Bustami,  disekolahkan kantornya untuk program S-2 di Universitas Sriwijaya (Unsri) Palembang.
Di penghujung periode perkuliahan, mereka mengikuti studi banding ke Nanyang Technological Univercity (NTU) Singapore dan ke University Kebangsaan Malaysia (UKM) di Salangor.
Di sela-sela studi banding UKM, Surya terpesona oleh luasnya kampus dan infrasturukturnya yang amat mengagumkan. Betapa tidak, UKM berada di atas area seluas 1.096 hektare, jauh dari permukiman penduduk, perpustakaan dengan lebih dari 1 juta judul buku, masjid, asrama mahasiswa berkapasitas lebih dari 10.000, dan lapangan golf 18 hole.
Pada saat rehat minum teh selepas acara seminar yang dipimpin Dr Nik Rahimah, Walil Dewan fakultas Pengurusan Perniagaan (Business Management), Suya menyelinap masuk ke bilik Dekan Prof Madya Dr Muhammad Mudya. Surya menanyakan kepada Muhammad Muda tentang kemungkinan putri sulungnya. Reiza Amelia, masuk UKM.
Kala itu, Reiza duduk di kelas 3 SMA 5 Negeri 5 Palembang. Reiza merupakan anak sulung hasil pernikahan Surya dengan mantan anggota Djamain Sisters, Sjenny Djamain. Surya mendapat penjelasan secara terperinci bahwa orang asing tidak dapat kuliah di UKM, kecuali lewat jalur khusus yang berarti anak itu harus punya keistimewaan.
Singkatnya, Reiza diterima untuk tahun kuliah 1996, diikuti kedua adiknya Yanuar Maulana pada 1998 dan Rizki Trinanda 2001`. Ketiganya mendapat bantuan subsidi dari Kerajaan Malaysia 100 persen. ”Kami sangat bahagia dan ingin berbagi kebahagiaan denga orang lain,” kata Surya.
Tamat dari Malaysia, dua anaknya bekerja di Amerika dan Petronas Malaysia. Selanjutnya, mengembangkan usaha di Indonesia.
Melihat keberhasilan ketiga anaknya, Surya tidak berpuas diri. Ia ingin berbagi kebahagiaan orang tua-orang tua yang memiliki anak pintar tetapi tidak mampu menyekolahkan anaknya ke perguruan tinggi. Ia ingin mencarikan sekolah bagi anak-anak intar yang ekonominya lemah. Ide ini kemudian melahirkan gagasan pendirian Sriwijaya Foundation (SF) pada 2003.
Belakangan SF melebarkan sayapnya dengan membantu anak lain di luar Palembang, seperti anak-anak yang jatuh miskin karena orangnya jadi korban gempa di Padang. Pertengahan November lalu, Surya mengurus seorang bocah Surabaya yang pintar tapi orang tuanya tak mampu.
”Anak itu saya carikan Universitas di Malaysia. Saya pakai uang yayasan untuk membiayai perjalanan, penginapan, dan makan kami. Setelah diterima di Malaysia, barulah saya mengahadap Wali Kota Surabaya untuk minta bantuan. Ternyata Wali Kota bersedia membantu kelanjutannya. Begitulah saya, terkatang saya hanya menjadi jembatannya saja. Pokoknya, asal niat kita baik, pasti ada jalan,” kata Surya.
Ia mengimbau orang-orang yang pernah menyekolahkan anaknya di luar negeri untuk mengikuti jejaknya, membantu anak yang tidak mampu untuk mendapat beasiswa di luar negeri. ”Kalau ada kemauan pasti ada jalan, ” ujarnya.
Setelah banyak membantu orang di luar Sumbar, banyak orang yang ”marah” pada Surya Burhanuddin. Kemudian, dia bertekad akan menyekolahkan anak-anak pintar di Sumbar ke luar negeri melalui jaringan yang telah dimilikinya ke Malaysia. Kata dia, ada dua hal yang dapat jadi pelajaran dengan mengirimkan bocah pintar sekolah ke luar negeri.
Pertama, anak Indonesia ternyata mampu dan bisa bersaing di luar negeri. Apabila semakin banyak anak Indonesia dikirim ke luar negeri, kesempatan anak lainnya untuk kuliah di universitas terkemuka tetap banyak. Apalagi kalau ke luar negeri bisa mendapatkan beasiswa.
Kemudian, Surya berharap banyak orang-orang lain yang berhasil dan mempunyai rezeki untuk membagi rezeki dengan menyekolahkan sebanyak-banyaknya anak Indonesia ke perguruan terkemuka di dalam negeri dan luar negeri. ”Saya siap carikan beasiswa dengan jaringan yang saya miliki. Tapi hendaknya ada yang membantu biaya hidupnya, sehingga anak-anak yang benar-benar tidak mampu bisa menikmati pendidikan yang berkualitas dan merubah kehidupan keluarganya,” ulas pria yang lahir di Alang Laweh Koto, Padang ini.
(***)

Surya Burhanuddin (berkacamata) ketika membawa tim dari Universiti Utara Malaysia berkunjung ke Padang dan disambut redaktur Padang Ekspres Hijrah Adi Sukrial (baju kotak-kotak).

Minggu, 16 Februari 2014

Sisi Lain Wali Kota Padang Fauzi Bahar

Tetap Jaga Anak, Tidur 4 Jam Sehari

 
Selasa (18/2) menjadi hari terakhir Fauzi Bahar memimpin Kota Padang. Masyarakat mengenalnya sebagai pemimpin tegas, kharismatik, dan religi. Di balik sosok tegasnya, ternyata mantan pasukan elite TNI AL ini adalah ayah yang penyayang dan penyabar.
Hijrah Adi Sukrial—Padang
Di sela kesibukannya memimpin Kota Padang sejak 10 tahun lalu, Fauzi Bahar tetap meluangkan waktu bagi keluarga tercinta, khususnya si bungsu, Tiara. Tiara terlahir sebagai anak yang berkebutuhan khusus. Fauzi sangat menyayanginya.


Sesibuk apa pun menjalankan tugas memimpin ibu kota provinsi Sumbar ini, Fauzi Bahar selalu menyempatkan diri bercengkerama dengan putrinya yang saat ini berusia 12 tahun.
Pria yang baru saja dianugerahi gelar Datuak nan Sati ini mengaku, Tiara tidak sama dengan anak-anak lainnya. Saat malam, Fauzi harus bergantian dengan istrinya Meutiawati menjaga Tiara. ”Kadang jam 2 malam saya belum tidur, karena Tiara belum tidur. Tapi itu tidak membuat saya capek dan lelah. Saya tetap bisa beraktivitas seperti biasa. Hikmahnya, saya jadi sering tahajud,” ungkap Fauzi Bahar saat berbincang dengan Padang Ekspres, di ruangan kerjanya, Balai Kota, Aiapacah Padang, Jumat (14/7) lalu.
Bagi doktor jebolan Universitas Negeri Padang itu, Tiara adalah amanah yang diberikan Allah padanya. Dia yakin, Allah menilai dia sebagai orang yang mampu dan kuat menjaga, merawat dan menyayangi Tiara.
Sekadar diketahui, saat Fauzi Bahar pertamakali menjabat sebagai Wali Kota Padang pada tahun 2014, ketika itu Tiara masih berumur 2 tahun. ”Dia tidak tahu ayahnya seorang wali kota. Dia tidak tahu ayahnya sedang didemo orang. Yang dia tahu, ketika kita datang, dia ingin bercengkerama dengan kita. Sehingga, seberat apa pun masalah di kota ini, ketika bertemu dengan Tiara, saya harus melupakannya sejenak. Walau 20 menit, saat akan memberikan waktu untuk dia,” papar alumni Lemhanas ini. “Tiara bagi saya adalah yang paling mahal di dunia ini. Dia membuat saya menyadari bahwa cinta yang paling nikmat adalah cinta kepada anak,” ungkap putra Kototangah ini.
Keberadaan Tiara, menurut Fauzi juga membawa berkah bagi anak berkebutuhan khusus lainnya. Sebab, keberadaan Tiara, membuat istrinya Meutiawati memiliki kepedulian tinggi terhadap anak-anak. Salah satunya dengan mendirikan Ti-Ji Home Scholing, yaitu sekolah untuk anak berkebutuhan khusus. Saat ini sekolah ini telah memiliki sedikitnya 60 siswa yang semuanya anak berkebutuhan khusus.
Kemudian, Fauzi Bahar pernah membuka pengobatan gratis di rumah dinasnya. Ketika itu, ribuan warga kota tumpah ruah mengikuti pengobatan gratis. Semua berawal dari perjuangannya menyembuhkan Tiara.
Selain pengobatan modern, juga alternatif. Setelah sekian lama berusaha, akhirnya ia menemukan pengobatan yang tepat bagi putrinya. Ini pula yang dibagi-bagikan kepada masyarakatnya, agar sembuh seperti Tiara.
”Setelah mencoba pengobatan alternatif, putri saya membaik. Saya sangat bersyukur sekali. Tuhan mendengar doa yang saya panjatkan lewat tahajud. Saya begitu gembira. Kebahagiaan itulah yang ingin saya bagi dengan warga kota. Kesembuhan Tiara memberi inspirasi bagi saya untuk mendatangkan perantara pengobatan alternatif  yang telah menyembuhkan Tiara,” sebut Fauzi ketika itu.
Nama tabib yang didatangkan Fauzi Bahar bernama Haji MP Setiaji dari Lereng Wonosobo. Fauzi yakin Allah SWT juga akan memberikan kesembuhan yang sama bagi warga kota lewat perantara MP Setiaji. Awalnya, menurut Fauzi, MP Setiaji hanya menangani anak berkebutuhan khusus dan stroke. Tapi akhirnya, banyak juga penderita penyakit lain yang datang berobat padanya. ”Tiara telah menyadarkan saya, bahwa saya harus berbagi dengan orang lain sebagai wujud rasa syukur atas kurnia Allah,” aku Fauzi.
Walau begitu, Fauzi mengaku tidak pernah bisa berkumpul utuh dengan keluarga. Selama 10 tahun dia memimpin Kota Padang, dia belum pernah sekalipun makan malam dengan kondisi anggota keluarga yang utuh. Walau bulan puasa sekali pun. ”Bulan puasa, setiap hari saya sahur dan berbuka di tempat yang berbeda,” jelasnya.
Sandimitra ajudan sang wali kota mengaku salut dan haru melihat kasih sayang Fauzi Bahar pada keluarganya. Setiap pulang dari luar kota, katanya Fauzi langsung ke rumah untuk bertemu anaknya. ”Biasanya dari bandara bapak langsung ke rumah. Beliau temui Tiara, beliau cium, diajak bercanda. Setelah itu baru beliau menerima tamu atau menghadiri acara atau menjalankan tugas lainnya,” ujar Sandimitra kepada Padang Ekspres, kemarin.
Di hari-hari tertentu, menurutnya Fauzi bahar juga menunjukkan kasih sayang dengan membelikan keluarga oleh-oleh. ”Tiara biasanya dibelikan mainan,” jelasnya.
Berpikir Positif
Memimpin kota yang besar dengan berbagai problematika ini, bukan pekerjaan mudah. Begitu pula yang dirasakan seorang Fauzi Bahar. Dalam sehari, ia hanya merasakan mata terpejam 4 sampai 5 jam. Selain padatnya jadwal menjalankan tugas, dia juga harus menjaga Tiara bergantian dengan istrinya. Namun, Fauzi mengaku selalu fit dan kuat.
Menurut pria yang suka olah raga dragon boat ini, kuncinya adalah positif thingking (berpikir positif), olah raga dan bekam. ”Kalau makanan, saya tidak ada pantangan. Masakan istri yang paling saya suka adalah pangek padeh dan cumi,” jelasnya.
Sedangkan olahraga rutinnya adalah bersepeda. ”Dulu saya menyelam, dragon boat, dan berenang. Sekarang saya rutin bersepeda,” katanya.
Soal karakternya yang dianggap banyak pihak keras dan temperamen, Fauzi tak menampiknya. Dia mengakui, dulu ketika awal menjabat, dia memang agak temperamental. ”Ya, saya yang biasa di pasukan elite, penuh kedisiplinan, berpikir cepat, bekerja cepat, kaget bergabung dengan sipil. Saya maunya semua sama cepatnya dengan saya. Makanya agak temperamental, seiring berjalan waktu saya berusaha menyesuaikan diri,” beber pria yang sukses memberantas togel di awal kepemimpinannya ini.
Sekarang, Fauzi justru dikenal sebagai atasan yang dekat dengan anggotanya. Padang Ekspres berkesempatan merasakan keakraban itu. Saat azan Ashar berkumandang, dia mengajak semua pejabat eselon, staf, hingga wartawan shalat berjamaah di ruang kerjanya di Kantor Balai Kota Padang, dan Fauzi langsung menjadi imam.
”Kalau subuh, bapak ajak saya dan sopir shalat bersama. Kalau siang, di mana ada masjid, di sana kami shalat. Kalau di kantor atau di rumah, siapa yang ada selalu diajak shalat bersama,” kata Sandimitra.
Siap jadi Wagub
Usai menjalankan tugas sebagai Wako Padang dua periode, Fauzi Bahar mengaku akan mengurus beras genggam, yakni mengumpulkan beras dari warga mampu untuk disumbangkan ke warga yang tidak mampu. Selain itu, dia mempersiapkan diri untuk maju sebagai Calon Wakil Gubernur (Cawagub) Kepulauan Riau.
Dia optimistis bisa memberikan sumbangsih pemikiran dan pengalaman dalam memajukan Kepri. Apalagi, Kepri merupakan kampung halaman istrinya. Selain itu, karakter alam Kepri yang sama-sama mempunyai potensi maritim dengan Padang adalah daya tarik tersendiri.
Alasan lain yang menurutnya cukup logis, potensi suara dari masyarakat Minang di Kepri lumayan banyak, karena 24 persen penduduk Kepri adalah warga Minang. “Menurut saya itu sebuah modal. Tentunya kita ingin yang terbaik untuk daerah Kepulauan Riau ini,” tambah pria berkumis ini.
Sumber daya perikanan, sektor pariwisata dan industri maritim, tambang minyak dan gas (migas) menurutnya perlu mendapat perhatian lebih baik lagi. Wilayah kepulauan punya banyak aspek yang seharusnya menjadikan daerah ini punya pergerakan perekonomian yang pesat. ”Kita harusnya memikirkan bagaimana lautan itu bisa dijadikan tempat mata pencarian bagi masyarakat setiap saat seperti layaknya di darat,” ujarnya lagi.
Saat ini, dia sedang penjajakan dengan tokoh Kepri untuk menjadi pasangannya. Bahkan ada rumor beredar bahwa Fauzi akan berpasangan dengan Gubernur incumbent Muhammad Sani. ”Ya kita lihat saja nanti,” ulas pria yang sukses membumikan asmaul husna di Kota Padang ini. (*)

* Juga Diterbitkan di Harian Pagi Padang Ekspres

Rabu, 04 September 2013

Kisah Peternak Ayam Kukuak Balenggek di Solok






Semula hanya Hobi, Sekarang Profesi

Semula ia memelihara ayam kukuak balenggek hanya untuk hobi dan mengisi waktu luang. Setelah pensiun dari Kantor Arsip dan Perpustakaan Kota Solok sejak 1 Juni 2012, dia memelihara ayam kukuak balenggek bukan sekedar hobi lagi, namun untuk budidaya serta melestarikannya.

Hijrah Adi Sukrial—Solok

Pagi-pagi, Joni Putra, warga Simpang Rumbio, Kecamatan Lubuksikarah, Kota Solok ini sudah tiba di kandang ayam di belakang rumahnya. Dengan telaten, dia memberi makan induk dan anak ayam kukuak balenggek yang dipeliharanya.
Dia memegang satu per satu ayam unggulannya. Kemudian, dia memainkan jarinya untuk memancing ayam yang dipegangnya agar berkokok. Ketika satu ayam berkokok, ayam-ayam lainnya ikut berkokok.
Suaranya merdu sekali, tidak hanya sekali berkokok, namun bersambung-sambung. Suasana rumahnya yang sepi dan berada di tengah sawah, yaitu di dekat SMAN 2 Kota Solok menjadi ramai. Beberapa ekor burung peliharaannya juga ikut nimbrung dan meramaikan suasana pagi yang dingin itu. Baginya, mendengarkan kokok ayam balenggek di pagi hari merupakan kebutuhan rutin yang harus ia dapatkan.
Jenis ayam kukuak balenggek (kokok bertingkat) berkembang di Kecamatan Payung Sakaki dan Tigo Lurah, Kabupaten Solok. Sesuai dengan namanya, karakteristik khas ayam ini adalah suara kokoknya yang bertingkat-tingkat.
Ayam ini terbilang langka dan unik.
Jarang ditemukan di daerah lain, baik di Sumbar maupun provinsi lain. Namun beberapa pencintanya mencoba mengembangkan ayam ini hingga ke luar daerah, sekitar Sumbar.
Joni beternak ayam kukuak balenggek berawal dari hobi. Namun sekarang, ia telah membibitkan ratusan ayam dari keturunan ayam kukuak balenggek tersebut.
Kecintaannya terhadap ayam kukuak balenggek memang sudah ada sejak kecil. Di
a bahkan pernah membeli ayam unik itu seharga Rp 3 juta seekor.
Ayam kukuak balenggek yang bagus bisa ditawar di atas Rp 5 juta. ”Kalau ada kontes, para pencinta ayam kukuak balenggek akan memamerkan ayamnya yang paling merdu, atau yang paling banyak tingkat atau lenggek kokoknya.
”Pemenangnya langsung dibeli dengan harga tinggi. Semakin banyak kokoknya, semakin tinggi harganya,” kata Joni.
Ayam kukuak balenggek ini memiliki banyak jenis. Misalnya ayam kinantan, yang kaki, paruh, mata dan bulunya berwarna putih. Kalau ayam biring kaki, paruh dan mata berwarna merah. Kalau ayam kanso, bulunya berwarna abu-abu. Kalau ayam kuriak, kaki, paruh dan mata berwarna belang.
Sedangkan ayam putih bulu seluruhnya berwarna putih. Kalau ayam tadung kaki, paruh dan mata berwarna hitam. Kalau ayam pileh, kaki, paruh dan mata berwarna putih, dan kalau jalak, kaki, paruh dan mata berwarna kuning.
”Semua bangsal ayam-ayam itu merupakan jenis ayam kukuak balenggek. Tapi tidak semuanya bisa berhasil dilatih menjadi ayam kukuak balenggek. Artinya, mereka butuh perawatan dan latihan khusus agar bisa memiliki kokok yang bagus dan banyak lenggek. Setahu saya yang paling tinggi kelasnya kalau kokoknya mencapai 11 tingkat. Namun, selama saya melatih ayam, saya hanya berhasil mencapai 9 tingkat,” kata pria yang juga hobi mengoleksi batu akik ini.
Untuk perawatan, dia wajib memberikan makanan-makanan khusus, seperti tomat, madu, jeruk, cabai rawit, jahe, dan padi halus. Makanan itu diberikan sekali 15 hari setelah dimandikan. Makanan itu juga tidak diberikan sekaligus tapi bertahap dan memiliki kadar tertentu.
”Di usia empat atau lima bulan, ayam akan memperlihatkan potensinya. Di usia itu kemudian ayam dilatih hingga benar-benar bisa memiliki kukuak balenggek banyak. Saya sekarang memiliki banyak bibit, sedangkan yang telah dilatih dan memiliki kukuak yang bagus ada 9 ekor,” pungkas Joni.
Joni memulai hobi ini sejak tahun 1995. Sejak menggeluti hobi ini, dia berhasil menorehkan berbagai prestasi dalam lomba ayam kukuak balenggek. “Hampir semua lomba ayam kukuak balenggek saya ikuti. Banyak penghargaan, seperti piagam, piala, bahkan medali dan pin emas yang saya peroleh,” ujarnya sambil memerlihatkan  koleksi penghargaannya.
Jika sebelumnya hanya memelihara beberapa ekor ayam unggulan, sekarang Joni Putra memelihara ayam untuk membudidayakannya. Dia mengakui banyak biaya yang dibutuhkan untuk melestarikan ayam ini. Namun, kecintaannya membuatnya rela merogoh kocek dalam-dalam.
“Ayam ini adalah ciri khas Solok maupun Sumbar. Sayang kan kalau ternyata nanti daerah lain yang membudidayakannya. Apalagi sekarang orang di Pekanbaru, Jambi, Bengkulu juga mulai mengembangkan ayam kukuak balenggek,” terangnya.
Joni berharap Pemkab/Pemko mendukung upayanya membudidayakan ayam kukuak balenggek. Karena, dia yang saat ini hanya sebagai seorang pensiunan PNS mengaku kewalahan mengembangkan ayam dalam jumlah banyak karena tersandung dana.
“Untuk mengelola yang ada saat ini saja terkadang saya kewalahan. Saya berharap kalau ada program pemerintah untuk membantu mengembangkannya,” harapnya. (***)

Silaturahmi dan Salurkan Hobi ala Karyawan PT Pos Indonesia




IMPI, Ajang Berbaur dengan Masyarakat dan Karyawan

Selain berkeliling dengan motor untuk mengantarkan surat dan paket pos, karyawan PT Pos Indonesia ternyata mempunyai kegiatan lain yang masih berhubungan dengan jalan-jalan. Sejumlah karyawan PT Pos Indonesia Padang membentuk komunitas motor yang diberi nama Ikatan Motor Pos Indonesia (IMPI). Seperti apa?

Hijrah Adi Sukrial—Padang

DARI kejauhan terlihat konvoi puluhan motor. Mereka mengenakan jaket seragam berwarna oranye, dengan spotlight menyilaukan mata. Mereka adalah komunitas motor yang tergabung dalam Ikatan Motor Pos Indonesia (IMPI).
Jika komunitas lain anggotanya terdiri dari pengguna motor sejenis, IMPI mempunyai ciri khas lain, semua anggotanya khusus karyawan PT Pos Indonesia.
Mereka rutin melakukan touring ke beberapa kabupaten dan kota di Sumbar. Biasanya mereka mengunjungi objek-objek wisata dan melakukan berbagai kegiatan di sana. Saat touring mereka menggunakan bermacam-macam jenis motor. Mulai dari Vespa maupun motor matic kerap dipakai anggota IMPI. Touring biasa diikuti lebih dari 100 motor.
”IMPI ini adalah wadah karyawan pos untuk bersilaturahmi dan melakukan kegiatan sosial. Kami tidak hanya jalan-jalan, kami juga mengunjungi dan memberikan bantuan untuk korban bencana. Kami kunjungi karyawan pos yang kesusahan maupun dalam kebahagiaan. Sebagai bentuk kontribusi untuk perusahaan kami memperkenalkan produk-produk pos pada pengunjung objek wisata,” ujar Masri, ketua IMPI Padang.
Adapun objek wisata yang dikunjungi IMPI di antaranya, Istano Basa Pagaruyung, Pantai Carocok, Puncak Langkisau, Puncak Lawang, Pantai Gandoria, Bukittinggi dan objek wisata lainnya.
Di Padang, IMPI berdiri sejak 2 Juni 2011. Anggotanya telah mencapai 80 orang. Secara nasional, IMPI resmi berdiri 18 Desember 2004 di Bandung. Awal berdirinya IMPI hanya beberapa orang saja. Seiring perkembangan waktu, IMPI melebarkan sayap ke berbagai wilayah di Indonesia. Kepengurusan IMPI pun dibuat secara berstruktur.
Masri menjelaskan, tujuan IMPI untuk menggalang persatuan, kesatuan serta mempererat tali silaturahmi antar insan Pos di seluruh Indonesia sehingga akan meningkatkan kinerja dan produktivitas PT Pos Indonesia. “Hampir semua pegawai Pos Indonesia mulai dari cleaning service hingga manager masuk ke dalam komunitas ini,” ujar Masri.
“Kami menjadi lebih akrab. Yang paling berkesan ketika datang ke pesta anak teman. Kami semua datang naik motor, memakai jaket oranye. Semoga dengan adanya ini masyarakat kembali bernostalgia dengan pos yang identik dengan mengantar surat dan motor oranye,” kata salah seorang anggota yang minta namanya tidak ditulis.
Raten, anggota lainnya menyebutkan, meski komunitas ini beranggotakan kalangan internal, IMPI tak menutup mata terhadap kondisi sekitar. IMPI juga sering melakukan kegiatan sosial seperti menyalurkan bantuan untuk korban bencana. Ke depan, mereka menyiapkan acara pengobatan gratis, donor darah, kegiatan sosial lainnya.
Setiap IMPI melakukan touring, Raten bertugas untuk penunjuk jalan di depan rombongan. Dia mengaku banyak hal berkesan yang dialaminya saat mengikuti kegiatan IMPI. ”Kadang ada lawan yang motornya rusak atau bocor, ada tim yang membantunya. Momen-momen seperti itu membuat kami lebih akrab. Tidak hanya sesama karyawan, tapi juga dengan keluarganya,” beber Raten.
Selain itu, mereka juga menyiapkan mobil yang dilengkapi dengan obat-obatan untuk antisipasi jika sewaktu-waktu ada peserta touring yang sakit atau tidak kuat melanjutkan perjalanan dengan motor.
”Rata-rata peserta touring tidak muda lagi. Namun, dengan kebersamaan dan semangat, kami mampu menaklukkan  medan berat sekalipun. Mungkin kalau jalan sendiri-sendiri, kami tidak akan mau menempuhnya dengan sepeda motor,” ujar Raten.
Melalui komunitas ini, terjalin kebersamaan antara atasan dan bawahan. Semuanya seragam memakai jaket IMPI. Bahkan, kepala Kantor Pos Padang Achmad Sumariadi selalu menyempatkan diri ikut touring. Walau tidak biasa naik motor, saat touring IMPI, dia bergaya layaknya seorang bikers. Beberapa waktu lalu, pasukan oranye ini dipimpin langsung oleh Direktur Utama PT Pos Indonesia I Ketut Mardjana.
Mereka touring dari Padang ke Pariaman. Setibanya di Pariaman mereka melaksanakan acara peresmian kantor pos yang rusak akibat gempa. Setelah acara peresmian, bersama karyawan direksi berbaur di objek wisata yang ada di Pariaman. (***)

Sabtu, 25 Agustus 2012

Tradisi Pacu Jawi Di Kabupaten Tanah Datar

Penuh Filosofi Dihiasi Ritual Adat
Hari Sabtu itu, (11/8), suasana di Nagari Tabek Kecamatan Pariangan terasa berbeda dari hari lainnya. Masyarakat terlihat memakai pakaian lebih rapi dari biasanya. Walau matahari mulai sangat terik dan terasa menyengat, tidak mengurangi semangat mereka untuk menuju Balairung Sari, yaitu sebuah balai-balai atau tempat berkumpulnya masyarakat di nagari itu.

Mengenang Penyanyi Legendaris Minang Zalmon

Almarhum  Terkenal dengan Ciri Khas Runguih


dingin dingin hari
 labiah dingin hati.
laruik malam hari
labiah laruik diak oii hati
Cando Diserai
Kasiak Ramuan Tujuah Muaro

Lagu di atas, kutipan “Kasiak Tujuah Muaro”, yang cukup melekat dengan Zalmon. Pecinta lagu Minang, hampir tak ada yang luput dengan lagu tersebut.

Dalam usia 57 tahun, setelah lama didera penyakit paru, dan dirawat di RS Ibnu Sina, Zalmon pun akhirnya menghadap pada-Nya. Ia telah berpulang, pukul 11.30, 25 Mei 2011. Ranah Minang pun berduka, kehilangan salah seorang penyanyi  terbaiknya, yang suara dalam lagunya menyentuh hati.  Ia dimakamkan di pandam kuburan suku Jambak, Lubuk Minturun, Padang di hari kepergiannya.

Sekitar tahun 1990-an, suara Zalmon, terutama melalui lagu “Kasiak Tujuah Muaro” ciptaan Agus Thaher, tiba-tiba menghentak hati pecinta musik Minang. Lagu itu seakan menjawab paceklik lagu Minang yang konon katanya, belum menawarkan ruh baru di khasanah pecintanya. Tak hanya di kampung halaman, tapi hingga ke tanah rantau kehadiran Zalmon memberi suasana baru.

Suara lembab yang berat, energi ratap dan terkadang terdengar parau terasa berenergi, membuat Zalmon memiliki makna tersendiri di hati penggemarnya.  Apalagi warna suara Zalmon dengan lagu “Kasiak Tujuah Muaro” terasa mengena hati, sehingga, siapa pun yang datang kemduain melagukan “Kasiak tujuah Muaro”, terasa suara Zalmon masih menggetar. Suara Zalmon, ketika didengar, terasa memiliki ruh, yang menjalar kepada hati yang lintuh, terutama pendengar muda yang sedang menahan hati karena cinta dan kehidupan.

Ketika kabar meninggalnya merebak luas melalui jaringan seluler, facebook, twitter, rata-rata mengomentari: turut berduka cita, merasa kehilangan dan mendoakan Zalmon serta keluarga yang ditinggalkannya tabah. Sebentar saja, Rumah duka di kaki bukit Gunung Pangilun, Nanggalo, Padang itu ramai dikunjungi pelayat. Beberapa pelayat, menampakkan wajah murung, seakan suara Zalmon masih mengiang di telinga: Dingin-dingin hari/ Labiah dingin hati/ Laruik malam hari/Labiah laruik hati....

Zalmon juga populer lewat lagu Ratok Padi Ampo.  Lagu ini banyak digemari di tahun 1990-an, dan juga terbilang laris di Indonesia sehingga ia mendapatkan HDX Award . Tentu, banyak lagu-lagu dari album Zalmon mendapat perhatian khusus dari pecinta lagu Minang, antara lain Sapayuang Bajauah Hati, Buruah Sisiak, Nan Tido Manahan Hati, Diseso Bayang dan lainnya.

“Dia telah mewariskan karya seni untuk generasi Minang masa datang, percayalah dia akan selalu hidup dalam nyanyiannya,” tulis Fadlillah Malin Sutan, dosen Fakultas Sastra Universitas Andalas di facebooknya.  Begitu juga halnya Suryadi, peneliti lagu Minang yang kini mukim di Belanda, mengatakan, merasa kehilangan salah seorang penyanyi Minang terbaik.

Ingin Menikahkan Sri
Zalmon bernama asli Syamsurizal, didera sakit paru-paru basah sejak Desember 2010. Penyakitnya itu membuatnya tak bisa berbuat banyak.
Sri Suryani, 32, anak sulung almarhum menceritakan, ayahnya itu mulai sakit-sakitan sejak jatuh dari sepeda motor Desember 2010  lalu di Jalan By Pass Padang. Pascajatuh, di awal tahun 2011 Zalmon masih sempat show di Tangerang.

“Sebenarnya saat itu ayah sakit. Karena tawaran sudah diterima, beliau tetap pergi, walau harus menyanyi sambil duduk,”  kenangnya.  Sebelumnya, pada tahun baru 2010 lalu, Sri masih sempat menemani ayahnya tampil pada acara tahun baru di Kuala Lumpur, Malaysia.

Kata sri, sejak April lalu, sakit yang diderita ayahnya semakin parah. Keluarga kemudian memutuskan merawat Zalmon di rumah sakit. Namun, Zalmon meminta sebelum masuk rumah sakit, dia ingin menikahkan Sri.  Sri dan Keluarga kemudian meluluskan permintaan Zalmon. “Pada Jumat, 22 April, pukul 09.00 bapak nikahkan saya. Sehabis shalat Jumat dia masuk Rumah Sakit. Setelah di rumah sakit dia didiagnosa mengidap paru-paru basah. Dua puluh satu hari di rumah sakit keadaannya semakin parah, dia pun mengalami dehidrasi. Namun dia mendesak untuk dibawa pulang,” tutur Sri dalam duka.

Seminggu dirawat di rumah yang sangat sederhana itu, Zalmon menghembuskan napas terakhirnya. Dia meninggalkan lima  orang anak.

Menurut Sri, tidak ada anak Zalmon yang betul-betul mewarisi bakat menyanyi ayahnya. Hanya saja, Dian,  mahasiswa semester VI Fakultas Ekonomi UNP, anak ketiga Zalmon, yang sering ikut ayahnya bernyanyi.

Suara Runguih
Sementara, Uncu Musfar, Produser yang pertama kali mengajak Zalmon rekaman di bawah bendera Tanama Record mengatakan Zalmon adalah salah satu ikon musik di ranah minang yang tidak tergantikan. Kata Uncu, gaya bernyanyi Zalmon dulunya sangat mirip dengan Tiar Ramon, yaitu ratok, dan dendang Pauah. Dia tidak ingat tahun berapa persisnya Zalmon pertama kali rekaman.

“Yang jelas akhir tahun 80an. Lagu yang hits saat itu adalah Nan Tido Manahan Hati,” ujarnya.
Karena mirip dengan Tiar Ramon, dia kemudian mengarahkan Zalmon mempunyai ciri khas sendiri, jika Tiar Ramon terkenal dengan ratoknya, maka Zalmon dibentuk memiliki ciri khas lain, yang diistilahkan dengan runguih.

“Saya yang memberinya nama Zalmon. Sebab, alirannya mirip dengan penyanyi Tiar Ramon,” kata Uncu.
Diuraikan Uncu, Zal, diambil dari namanya Syamsurizal, dan Mon adalah diambil agar ada mirip-miripnya dengan Tiar Ramon. Alhamdulillah nama itu lebih terkenal dan lekat hingga akhir hayatnya.

Sedangkan Mak Itam, teman akrab almarhum mengatakan, dia kenal dengan almarhum sejak masih belum jadi penyanyi. Hal yang paling berkesan adalah ketika Zalmon menyanyi sambil main layangan, lagunya adalah Kamariah.

“Dia selalu menyanyikan lagu itu,”ujarnya.  “Selain itu orangnya pandai bergaul dan pagarah,” lanjut mak Itam.
Penyanyi Nedi Gampo, mengakui bahwa dia pertama kali rekaman karena terinspirasi Zalmon. Dia mengenal Zalmon saat acara organ tunggal pada tahun 1991. Kemudian lagu yang pertama kali dinyanyikan Nedi Gampo adalah karangan Zalmon yang berjudul Sapayuang Bajauah Hati.

“Saya banyak belajar dari beliau, baik dalam hal menyanyi,  maupun dalam keseharian. Tahun 1993 saya pertama kali rekaman juga membawakan lagu ciptaannya,” ujar Nedi.

Zalmon lahir di Jakarta, 15 September 1954. Zalmon telah mengeluarkan 120 album dengan beberapa rumah produksi, diantaranya Tanama Record, Pitunang Record, Planet Record, Sinar Padang, Gita Firma, bahkan dia sempat mendirikan perusahaan rekaman sendiri yang diberi nama Zalmon Record.

Almarhum juga telah melakukan show di berbagai kota di Indonesia, bahkan sampai ke mancanegara. Hal yang paling khas dari lagu-lagu yang diciptakan dan didendangkannya, yakni nuansa musik “maratok” khas Minang. Beberapa album pernah ditetaskan antara lain Buruak Sisik, Nan Tido Manahan Hati, Kasiak Tujuah Muaro, Biduak Pincalang, Ganggam Baro, Hukum Jatuah Hakim Babelang, Minang Baguncang, Tasisiah, Bulan Kasiangan, Tangih Mande,  Hanyuik Indak Bapinteh, Tacoreang Arang di Kaning, Tangih di Rantau, Ameh jo Timbago, Pudiang Merah, Bareh Ganggam, Ganjia Bana, Kau Pergi tanpa Relaku dan masih banyak lagi.

Kini, Zalmon telah tiada.  Kita mengenangnya, sebagai seniman yang meninggalkan karya, meninggalkan nyanyinya. Suaranya, seakan masih mengiang: Laruik malam hari/Labiah laruik hati....(***)

Selasa, 15 Maret 2011

Pembentukan Karakter Dengan Metode Panggung Boneka


Metode bermain diyakini metode yang sangat disukai murid SD dalam memberikan pelajaran pada mereka. Sedangkan untuk urusan kesehatan dan kebersihan memberikan mereka tanggungjawab sebagai dokter kecil diyakini bermanfaat menumbuhkan kesadaran mereka terhadap hal itu.
Laporan Hijrah Adi Sukrial
Sepertinya hal diatas menjadi motivasi bagi Japfa4Kids bekerjasama dengan Meeks Foundation untuk menggelar  pelatihan dokter kecil dan pementasan panggung boneka di SDN 06 Pasir Jambak.

Pagi itu terlihat ratusan anak berkumpul di SD negeri yang dibangun kembali oleh yayasan Meeks setelah roboh akibat gempa 30 September 2009. Mereka duduk dalam dua kelompok, satu untuk murid berpakaian merah putih, sedangkan sekelompok lagi untuk murid yang memakai seragam dokter. Mereka adalah utusan dokter kecil dari 5 sekolah di Kecamatan Batang Anai, ditambah dari SDN 06 Pasir Jambak.
Diatas pentas terlihat sebuah ruangan kecil, ditutupi tirai berwarna merah hati. Di sanalah nanti akan keluar boneka, saat pertunjukan panggung boneka yang akan dimainkan dimulai. Sementara menunggu pertunjukan panggung boneka dimulai, anak-anak diajak bermain oleh kakak-kakak dari Meeks Fondation yang bekerjasama dengan Japfa4Kids.
Anak-anak terlihat senang, mereka antusias dengan metode bermain sambil belajar yang dipandu oleh kakak-kakak yang sengaja dating dari  Jakarta itu. Setiap kali mereka ikut bermain, lalu bisa menjawab pertanyaan, maka mereka akan mendapat hadiah berupa susu dan produk kesehatan anak lainnya.
Sementara guru-guru dari beberapa sekolah duduk dibelakang, mereka haru melihat anak-anak mereka yang pintar dan bersemangat. Selain itu mereka seakan mendapat banyak pelajaran dari metode yang diterapkan oleh rombongan tersebut.
Akhirnya tibalah saat yang ditunggu-tunggu, pertunjukan panggung boneka pun dimulai. Mbak Puri yang menjadi pembawa acara memandu anak-anak agar perhatian ke panggung. Setelah anak-anak diajak berjanji untuk diam, maka pertunjukan pun dimulai.
Tirai panggung boneka terbuka. Lalu terdengarlah suara yang diputar melalui rekaman tersebut. Muncullah sebuah boneka dengan karakter ibu yang sedang memanggil anaknya. Saat suara percakapan muncul, maka mulut boneka akan bergerak seakan sedang berbicara. Yang menggerakkannya adalah tangan seseorang yang bisa disebut sebagai dalang. Tangannya masuk ke dalam badan boneka.
Dalam cerita panggung boneka kali ini tema yang diangkat adalah “siapa taat dia selamat”. Menurut Mbak Puri, mereka mempunyai banyak sekali cadangan naskah panggung boneka. Kemudian akan diputar sesuai tema. Mereka akan menanamkan nilai-nilai kemanusiaan pada anak-anak dengan cara menyampaikannya melalui scenario yang dipertontonkan oleh panggung boneka. “Kita akan berikan nilai-nilai moral melalui panggung boneka yang mereka tonton, setelah pertunjukan usai kita akan kuatkan dan beri pertanyaan pada murid-murid. Biasanya mereka bisa menjawab, karena mereka menonton dengan serius,”ujar Mbak Puri.
Ada seorang ibu yang memanggil anaknya yang sedang asyik bermain, anak itu disuruh ibunya untuk membersihkan kaca. Dengan sedikit merengut kemudian dia mengerjakannya. Dia meminta kepada ibunya setelah selesai membersihkan kaca agar dia diizinkan untuk bermain keluar. Ibunya kemudian menasehati sang anak agar menjadi anak yang taat dan tidak berbuat nakal, serta tidak mengganggu teman. Anak yang bernama Andi kemudian mengiyakan kata ibunya. Namun kenyataannya setelah selesai bekerja membersihkan kaca jendela, Andi bermain keluar dan berbuat nakal. Yang dilakukannya adalah sebuah sikap tidak taat pada pesan ibunya.
Di sisi lain, ada seorang anak perempuan yang sedang memegang roti. Dia bingung karena roti itu dibelinya kemarin, namun dia lupa memakannya. Dia yakin roti itu telah basi. Tiba-tiba Andi dating dan merampas roti anak perempuan itu. Tanpa sempat berkata, Andi merampas dan segera berlalu. Anak perempuan itu pun tidak sempat mengatakan kalau roti itu telah basi.
Keesokan harinya, setelah bangun tidur, Andi menangis karena sakit perut. Ibu puun bertanya, Andi memakan apa? Si ibu yakin, kalau Andi tidak makan apa-apa, maka Andi tiddak akan sakit perut. Akhirnya Andi mengaku dia telah memakan roti yang dirampasnya dari teman perempuannya. Akhirnya ibu mengetahui roti itu telah basi setelah bertanya pada teman perempuannya itu. Sementara Andi kemudian sadar, bahwa dia tidak taat dan mengakibatkan dirinya tidak selamat. Semenjak itu Andi sadar, siapa yang taat maka akan selamat.
Setelah itu pertunjukan panggung boneka berakhir. Anak-anak kemudian ditanya tentang apa yang baru ditontonnya. Anak-anak pun antusias menerangkan apa saja yang ditanya pembawa acara. “Kenapa Andi sakit perut?” ujar pembawa acara.
Lalu seorang anak maju dan menjawab, “karena makan roti basi,”ujarnya. Begitulah seterusnya, semua pertanyaan bisa dijawab oleh anak-anak dengan baik. Akhirnya diberi penguatan dan acara panggung boneka selesai.
Pertunjukan panggung boneka adalah salah satu metode pembelajaran yang sudah digalakkan di pulau Jawa. Meeks foundation membawanya ke Sumbar. Mereka berharap selain memberikan bantuan fisik berupa bangunan sekolah, mereka juga mendapat pendidikan karakter. “Walaupun sekolah bagus, sementara karakter anak-anak tidak terbentuk dengan baik, semua akan percuma. Kami mencoba membantu guru membentuk karakter anak-anak dengan metode yang menyenangkan, mudah-mudahan bisa ditiru,” ujar perwakilan Meeks Fondation yang dating ke SDN 06 Pasir Jambak.
Setelah panggung boneka selesai, dilaksanakan pelantikan dokter kecil. Dokter kecil ini dibina dan dilatih oleh petugas dinas kesehatan dan tenaga kesehatan dari Puskesmas terdekat. Diharapkan mereka bisa memberi contoh kebersihan yang baik pada teman-temannya dan mereka bisa memberikan pertolongan pertama pada teman-temannya yang sakit, pusing, dan pingsan, serta pertolongan pertama lainnya. Kami telah lakukan ini di beberapa SD di sekolah, selain membangun sekolah Japfa  juga mempunyai program pelatihan dokter kecil, pelatihan jurnalistik, dan memberikan bantuan alat kesehatan pada dokter kecil selama 3 bulan ke depan. Kami juga memberi susu dan produk kesehatan lainnya selama 3 bulan ke depan,” ujar Mas Gigih, yang merupakan manager Publik Relation Japfa. (a)